Minggu, 10 Juli 2011

(seri dinamika kepemimpinan organisasi mahasiswa)


To reflect and to act

Saya ingin bercerita tentang pengalaman saya pertama kali aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan di kampus saya, kebetulan saat itu organisasi yang mestinya menjadi garda terdepan malah kehilangan kelaminnya, jadi tidak mempunyai kejelasan fisik apalagi visi. Melihat kondisi seperti ini beberapa mahasiswa dan dosen mempunyai inisiatif untuk mengadakan upaya rekonstruksi yang sebenarnya konsepnya lebih mirip dengan kudeta. Maka kekacauan pun dimulai (bersambung..). Dalam kondisi seperti ini ataupun kekacauan lainnya disinilah dibutuhkannya peran seorang pemimpin yang diharapkan mampu membawa kemaslahatan bersama. Mendengar tema (kepemimpinan) di atas biasanya adrenalin kita terpicu seketika, mengapa? Ketika berbicara kepemimpinan atau kebutuhan pemimpin dalam sebuah organisasi orang akan dengan cepat memikirkan “kayanya saya enggak akan mampu nih, belum punya pengalaman kok sudah ditunjuk” atau dengan mudahnya kita menunjuk orang lain dengan suara yang lantang dan bahkan ada yang diam sibuk dengan fantasi fikirannya sendiri memikirkan sekelumit beban yang akan dialaminya jika dia membranikan diri untuk menjadi pemimpin. Ini sekilas kondisi yang terjadi pada saat itu, mudah-mudahan mahasiswa sekarang enggak begitu mental dan pola fikirnya.

Itu hanya sekilas saja, yang ingin saya bahas adalah tema saya di atas “to reflect and to act” bila dilihat secara harfiah dalam kamus bahasa to reflect= memikirkan dengan sungguh-sungguh dan act= aksi. Dari dua kata ini saja sudah jelas apa maksud saya, ya kata-kata ini yang harus ada dalam mind set kita, bukan lagi ketakutan, menunjuk orang lain atau merasa tidak PD tapi “apa yang akan kita lakukan bila kita menjadi pemimpin”. Simpel bukan?..tapi apa mental kita siap untuk merubah mind-set kita?. Dalam kehidupan sehari-hari kita lebih memilih duduk di tempat paling belakang dalam barisan dibanding memilih duduk di tempat paling depan. Secara psikologis orang seperti itu tidak siap menjadi pemimpin bahkan tidak untuk menjadi follower sekalipun biasanya hanya menjadi penonton. Mudah-mudahan pemuda sekarang tidak begitu.

Mari kita cermati salah satu ayat Alquran tentang Penciptaan manusia dan penguasaannya di bumi.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

(Q.S Al Baqarah: 30)

Secara fitrah sudah jelas bahwa manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini, dalam kata lain menjadi pemimpin di muka bumi, ya paling banter mampu menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri, betul enggak?.

Hemat saya, saya ingin mengajak teman-teman untuk mulai membangun karakter yang prima dalam berorganisasi. Belajar, kuliah memang no.1 tapi organisasi juga penting untuk pengayaan soft skill kita yang tidak didapat di bangku kuliah. So, daripada jadi pendengar yang bisanya nunjuk orang, atau penonton yang cuma bisa jadi komentator lebih baik kita ikut ambil bagian di dalam arena. Pernah dengar pepatah “you’ll never know till you tried” kan?, tepat sekali. Selamat mencoba!!!!